Pengaruh suku bunga terhadap nilai tukar rupiah serta kondisi di Negara Asean

Posted: June 8, 2014 in Perekonomian Indonesia

ASEAN

Image

SUKU BUNGA

Aktivitas ekonomi internasional sangat erat kaitannya dengan suku bunga dan nilai tukar. Perdagangan internasional, investasi, hingga kebijakan berbagai kebijakan nasional terkait dengan pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan tingkat inflasi membutuhkan keduanya. Dalam pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai suku bunga dan nilai tukar serta faktor-faktor yang berkaitan dengan keduanya.

Dalam sistem perekonomian suatu negara, nilai mata uang suatu negara memiliki korelasi dengan nilai tukarnya. Nilai tukar didefinisikan sebagai kemampuan mata uang suatu negara untuk ditukarkan dengan mata uang lainnya. Ketika Sistem Bretton Woods masih ada, negara menetapkan nilai mata uangnya secara rigid terhadap dollar dan emas yang menjadi acuan penukaran mata uang tersebut dengan mata uang lain. Namun, ketika sistem Bretton Woods runtuh, dollar tidak lagi dapat menjamin nilai tukar internasional hingga kemudian beralih ke sistem nilai tukar mengambang.  Sistem nilai tukar yang dipilih oleh negara dideklarasikan dan dilaporkan kepada IMF setiap tahun guna kemudian dilakukan pengawasan dan disediakan bantuan bila membutuhkan.

Terdapat tiga kategori besar nilai tukar yang dijabarkan oleh IMF. Pertama, nilai tukar yang digantungkan kepada mata uang lain (Pegged exchange rate) yakni suatu negara menggantungkan secara tetap nilai mata uangnya terhadap mata uang negara lain yang dianggap mampu menjaga stabilitas. misalnya El Salvador yang menggantungkan mata uangnya pada dollar dan beberapa negara di Afrika yang menggantungkan mata uangnya pada Euro. Kedua, nilai tukar dipatok (fix exchange rate) artinya nilai tukar mata uang yang cenderung tetap tanpa terpengaruh oleh kondisi apapun. Misalnya Denmark, Cyprus dan Hungaria. Ketiga, adalah nilai tukar mengambang (floating exchange rate) dimana negara membiarkan nilai tukarnya dideterminasi oleh mekanisme pasar baik bebas sepenuhnya atau masih dibawah pengaturan dan intervensi dari negara, misalnya Indonesia, Dollar dan lain sebagainya.

Pengaturan nilai tukar suatu negara dilakukan oleh bank sentral. Bank sentral dalam hal ini melakukan intervensi pasar uang untuk menjaga kestabilan mata uang dan mengatasi ketimpangan yang mungkin terjadi di pasar. Bank sentral dapat menjual atau membeli persediaan mata uang apabila dirasa perlu untuk mengembalikan stabilitas mata uangnya. Selain itu, cadangan yang dimiliki oleh bank sentral seperti emas, SDR maupun mata uang asing, harus memadai guna mampu mengintervensi pasar. Terdapat beberapa pilihan kebijakan yang dapat diambil oleh bank sentral, seperti koordinasi dengan bank sentral lain; memasuki pasar secara agresif; mengumumkan operasi pasar; serta beroperasi secara terbuka melalui broker-broker tertentu.

Nilai tukar mata uang suatu negara memiliki korespondensi dengan  tingkat inflasi. Dalam kondisi inflasi rendah, nilai mata uang cenderung mengalami apresiasi atau kenaikan karena uang yang beredar tidak banyak. Sedangkan kondisi sebaliknya terjadi ketika inflasi mencapai angka yang tinggi maka uang yang beredar banyak dan mengakibatkan depresiasi terhadap nilai mata uang. Harga barang mengalami kenaikan sehingga kemudian banyak barang impor yang masuk sebagai pesaing. Ketika negara melakukan impor, hal itu berarti negara sedang menambah angka permintaan terhadap mata uang asing dibandingkan permintaan terhadap mata uang domestik. Namun kenyataannya negara membutuhkan banyak mata uang asing yang tidak cukup hanya mengandalkan ekspor negara tersebut. Di sisi lain, mata uang negara tersebut mengalami penawaran tinggi yang tidak diimbangi dengan permintaan sehingga hal inilah yang kemudian menyebabkan nilai mata uang mengalami depresiasi.

Nilai mata uang dan inflasi selanjutnya akan berdampak pada nilai suku bunga. Suku bunga adalah biaya yang dikeluarkan oleh kreditur atas pinjamannya sekaligus menjadi imbalan untuk pemberi dana utang. Dari sini bank sentral suatu negara akan memberlakukan suku bunga yang tinggi untuk menekan inflasi agar uang yang beredar dapat dikendalikan. Namun yang terpenting adalah dengan diberlakukannya suku bunga yang tinggi maka hal tersebut dapat menarik minat para investor serta modal asing sehingga kemudian nilai mata uang pun meningkat. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebenarnya nilai mata uang sebanding dengan suku bunga.

Nilai tukar dan tingkat suku bunga juga memiliki kaitan erat dengan istilah Purchasing Power Parity (PPP). Teori Paritas Daya Beli ini didefinisikan sebagai perbedaan harga suatu barang yang sama tetapi dijual dengan harga yang berbeda. Teori ini memaparkan bahwa perubahan dalam inflasi relatif (perbandingan inflasi antar negara) antara dua negara harus diimbangi pula oleh perubahan dalam nilai tukar untuk menjaga kesamaan harga barang di antara kedua negara tersebut. Penelitian dalam teori PPP ini menggunakan acuan harga Big Mac, yakni sebuah produk makanan dari McDonald’s yang dijual di ratusan negara dan memiliki komposisi sama, namun memiliki harga yang berbeda. Dari sinilah kemudian nilai mata uang suatu negara dan paritas daya belinya dapat diketahui ketika harga Big Mac dari tiap-tiap negara tersebut sudah dikurs ke dollar dan dapat dikomparasikan. Nilai suatu mata uang dikatakan overvalued jika perbandingan mata uang tersebut lebih besar sementara dikatakan undervalued jika perbandingan mata uang tersebut lebih kecil dibandingkan negara lain.Teori Efek Fisher yang dikemukakan oleh Irving Fisher juga berkontribusi dalam menjelaskan mengenaitingkat suku bunga dan inflasi.  Efek Fisher menjelaskan bahwa suku bunga nominal di suatu negara, ditentukan oleh nilai tukar riil dan rasio inflasi dengan rumus sebagai berikut: (1 + r) = (1 + R)(1+i). r merupakan suku bunga nominal, R merupakan suku bunga riil dan merupakan rasio inflasi.

Pasar sangat menentukan nilai tukar pada masa sistem tukar mengambang ini. Namun terdapat pula beberapa faktor lain yang turut memegang peranan penting, misalnya masalah kepercayaan atau confidence. Pada kondisi sistem internasional yang tidak stabil, orang-orang cenderung memilih untuk memiliki mata uang yang relatif lebih aman terhadap guncangan sehingga kemudian dapat membuat penurunan drastis nilai mata uang yang tidak lagi memperoleh kepercayaan. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah peluncuran statistik ekonomi nasional, permintaan mata uang musiman, serta manuver dari bank sentral.

Hubungan antara tingkat suku bunga dan nilai mata uang ternyata sangat erat dan korespondensial. Jika tingkat yang satu diubah maka nilai lain akan segera berubah pula. Kondisi ini juga terpengaruh oleh nilai tukar mata uang tersebut kondisi dalam negeri berupa pertumumbuhan ekonomi maupun inflasi. Keterkaitan antara elemen-elemen tersebut nyatanya tidak hanya pada tingkat nasional namun juga berada pada tingkat global dikarenakan integrasi ekonomi yang sudah saling terkoneksi.


Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Net Interest Margin (NIM) perbankan di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN. Keuntungan bank di dalam negeri yang tercermin dari marjin bunga bersih atau NIM sepanjang tahun lalu mencapai 4,89%.

Per akhir 2013, NIM perbankan Indonesia mencapai 4,89%, disusul Filipina yang mencapai 3,3%, Thailand sebesar 2,6%, Malaysia 2,3%, dan Singapura 1,5%.

“NIM kita cukup bagus dibanding negara-negara lain. Kita lebih unggul ketimbang NIM perbankan Filipina yang mencapai 3,3%, Thailand 2,6%, Singapura 1,5%, Malaysia 2,3%, Indonesia 4,89%,” kata Direktur Pengawasan Bank OJK Slamet Edy Purnomo saat diskusi bersama media di Gedung OJK, Jl. Wahidin, Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Edy menjelaskan, untuk mempertahankan posisi NIM di tengah ketatnya likuiditas, bank-bank di Indonesia melakukan beberapa penyesuaian dengan menaikkan bunga kreditnya. Merunut pada data Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan, OJK mencatat pada kuartal I-2014, suku bunga kredit korporasi mengalami kenaikan 5 basis poin (bps) ke level 10,43%, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara year on year (yoy).

Kredit konsumsi seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga naik 8 bps menjadi 8,75%. Sedangkan kredit ritel naik 12 bps ke angka 10,71%. Untuk kredit konsumsi non KPR meningkat 12 basis poin menjadi 9,55%. Serta kredit mikro yang juga naik 13 bps ke level 9,67%.

“Menjelang pemilu likuiditas ketat. Namun kami harapkan suku bunga tidak ada kenaikan hingga masa pemilu berakhir. Suku bunga kredit faktornya banyak di antaranya risiko usaha, misal risiko politik, ekonomi. Selain BI Rate dan masalah kekeringan likuiditas. Sejauh ini sampai menjelang pemilu diharapkan tidak akan menaikkan suku bunga sepanjang faktor-faktor itu bisa diantisipasi,” kata Edy.

Tabel Tingkat Suku Bunga meliputi tingkat suku bunga saat ini dari ASEAN.

Image

dengan menggunakan grafik akan terlihat seperti ini

Image

NILAI TUKAR

Image

Myanmar Cenderung menyamai nilai mata uang.

Berdasarkan data pada tabel di atas, Vietnam merupakan negara ASEAN yang mengalami depresiasi nilai tukar terhadap US$ setiap tahunnya. Sedangkan beberapa 7 negara seperti Indonesia, Myanmar dan Thailand mengalami fluktuasi nilai tukar yang tajam. Nilai tukar mengalami apresiasi dan depresiasi dari tahun ke tahun. Sementara Brunei, Laos, Malaysia, Philipina, dan Singapura mengalami apresiasi nilai tukar terhadap US$ setiap tahunnya. Perubahan sistem nilai tukar yang diterapkan tentunya akan berimplikasi terhadap karakteristik fluktuasi nilai tukar dan pengaruhnya terhadap perekonomian.

Beberapa penelitian menunjukkan adanya perubahan nilai tukar suatu mata uang mempunyai pengaruh terhadap perubahan neraca perdagangan dan perubahan output. Perubahan nilai tukar riil mempengaruhi harga relatif produk akan lebih murah atau lebih mahal terhadap produk negara lain, sehingga seringkali nilai tukar digunakan untuk meningkatkan daya saing. Dalam menghadapi integrasi ekonomi yang akan dilakukan Negara ASEAN dalam beberapa waktu ke depan, diharapkan dapat menekan fluktuasi nilai tukar yang terjadi.

Sumber :

http://finance.detik.com/read/2013/01/23/094406/2150306/5/rp-1000-jadi-rp-1-nilai-tukar-rupiah-ke-dolar-terendah-kedua-di-asean

http://macroeconomicdashboard.com/index.php/id/asean/153-ekonomi-asean-peningkatan-instabilitas,-perlambatan-pertumbuhan

http://www.fxstreet.web.id/economic-calendar/interest-rates-table/

http://finance.detik.com/read/2014/05/02/174016/2571876/5/marjin-bunga-bank-ri-paling-tinggi-di-asean

http://www.seputarforex.com/artikel/forex/lihat.php?id=128564&title=pengaruh_suku_bunga_terhadap_nilai_tukar_mata_uang

http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/index.php?option=com_content&view=article&id=1367:pengaruh-tingkat-suku-bunga-dan-nilai-tukar-terhadap-harga-saham-perbankan-di-bursa-efek-indonesia&catid=21&Itemid=412

http://vijai-indo-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-81985-PEI-Nilai%20Tukar%20dan%20Suku%20Bunga.html

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s